Tiada kata yang mampu diucapkan mana-mana wanita apabila disahkan menghidap penyakit kanser melainkan gambaran kematian yang terlintas di fikiran.

Pemikiran mereka seolah-olah sudah ditanam dengan kepercayaan bahawa sesiapa sahaja yang menghidap kanser tidak mempunyai usia yang panjang.

"Persepsi itu sebenarnya salah kerana Allah sudah menjanjikan yang terbaik buat kita sekiranya kita berusaha."

Itulah bicara awal Rohana Rabu @ Mahat, 36, ketika berkongsi pengalamannya menghidap kanser ovari.

Pada awalnya, Rohana sendiri berat hati dan malu untuk bercerita.

Namun, katanya, dia berharap kisah ini dapat memberi semangat kepada pesakit lain melawan kanser.

"Dengan izin Allah, keadaan kesihatan saya semakin baik. Mula-mula dulu saya seperti wanita lain, sedih, malu dan hampir berputus asa. Namun, saya yakin dengan ketentuan Tuhan, setiap penyakit pasti ada ubatnya. Saya berusaha berjumpa pakar dan mencari rawatan alternatif," ujarnya yang bertugas sebagai guru.

Empat tahun lalu, Rohana disahkan menghidap kanser ovari peringkat ketiga.

Seperti tidak percaya dengan berita itu, Rohana cuba bangkit dan mencari semangat baru dalam hidupnya.

Ujian
Selepas menjalani ujian pemeriksaan kesihatan, Rohana perlu melakukan pembedahan segera.

Rohana bersyukur kerana segalanya berjalan lancar dan seperti pesakit kanser lain, dia kemudian menjalani rawatan kemoterapi.

"Tuhan sahaja tahu sakitnya ketika itu. Namun saya positifkan diri untuk melawan sakit. Saya berpantang dari segi penjagaan makanan dan hanya bergantung pada ubat selama empat tahun. Kemudian suatu hari, saya mencuba suplemen herba setelah disarankan oleh seorang kawan. Dengan izin Allah, kesihatan saya semakin baik terutamanya aspek kecergasan fizikal. Walaupun begitu, saya tetap berpantang makan kerana takut rahim menjadi bengkak semula," ujarnya ketika ditemui di An Nabaat Sdn. Bhd, Bandar Baru Bangi, Selangor baru-baru ini.

Tambah Rohana, dia dimaklumkan faktor pemakanan dan genetik menjadi punca terbesar kanser ovari.

Justeru, Rohana lebih berhati-hati soal pemakanan. Nasihatnya, walau sibuk dengan kerjaya, setiap orang perlu elakkan makanan segera dan banyakkan makanan organik atau sihat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.

"Kehidupan hari ini berbeza dengan dulu kerana semua perlu dilakukan segera. Masa pun berjalan dengan pantas. Oleh itu, kita perlu bijak mengurus masa dan jadual diri supaya kita juga mempunyai masa berehat yang sempurna.

Selain itu, kita perlu kembali kepada amalan semula jadi sebagai umat Islam. Untuk menjadi positif, banyakkan amal ibadat seperti solat sunat dan membaca al-Quran. Itu semua akan menjadi penawar terbaik kepada setiap pesakit," katanya mengakhiri bicara.

Sumber: utusan.com.my

Artikel ini telah disiarkan di Akhbar Mingguan Malaysia, pada Ahad 2/9/2012



Pada bulan Januari yang lalu, saya mengalami deman dan sakit kepala yang berpanjangan. Pada awalnya saya menyangka sakit yang saya alami ini adalah penyakit biasa dan hanya perlu memakan obat yang dibeli di apotik, namun tidak ada perubahan. akhirnya saya memutuskan untuk berjumpa dokter dan membuat peperiksaan darah. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, saya telah disahkan mengidap Hepatitis B.

Saya coba mencari penawar penyakit saya melalui internet. Kebetulan saya terbaca mengenai Herbal An-Nabaat. Saya telah menghubungi Dr Nurmawati dan beliau menyarankan saya memakan Herbal Rawat Hepatatis B dan Minyak Kelapa Dara. Setelah 7 bulan saya memakan obat-obat tersebut barulah saya membuat pemeriksaan darah. Saya bersyukur kehadirat Allah SWT karena hasil ujian kali ini adalah negatif. Penyakit saya telah sembuh sepenuhnya. Alhamdullilah.

Fauzi (Sg. Besi, KL)


Assalamu'alaikum. Saya Cik Norita seorang wanita karir. Berusia awal 50an. Kerja saya menuntut waktu yang banyak di luar rumah. Saya keluar seawal pukul 6.30 pagi dan akan pulang ke rumah jam 10 malam. Kadang kala mencecah pukul 12 malam pun ada, apabila kerja terlalu banyak.

Dalam kesibukan masa itu, saya disahkan oleh seorang dokter pakar Obstetrik & Ginekologi di sebuah Rumah Sakit swasta di Subang Jaya bahwa ada Kista pada kedua-dua payudara selain polyp di dalam rahim.

Selepas diperkenalkan oleh seorang rakan sekerja akhirnya, saya telah berjumpa dengan Dr Nurmawati Syakroni pengasas produk Herbal An-Nabat.

Atas nasihat beliau, saya telah coba mengamalkan pegambilan Herbal Rawat Kista 1 dan Kista 2 secara sistematik selama 3 bulan.

Alhamdulillah sekarang saya tidak perlu lagi berjumpa dokter pakar setiap bulan kerana Kista tersebut tidak berkembang (tidak aktif). Perjumpaan terakhir dengan dokter pakar ialah pada bulan Agustus lalu dan dokter pakar berkenaan memaklumkan saya hanya perlu berjumpa beliau pada bulan Agustus tahun 2012.

Dalam waktu yang sama polyp yang ada dalam rahim saya juga disahkan telah sembuh.

Saya merasa sangat bersyukur karena diberikan peluang untuk mencoba obat poduksi Herbal An-Nabat yang bagi saya sangat memberikan banyak manfaat kepada saya dari segi kesehatan. Terima Kasih Herbal An-Nabat karena mengeluarkan produk herbal yang boleh dimakan tanpa ragu dan bimbang.



Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kesehatan mengembangkan pelatihan penggunaan obat tradisional di kalangan dokter.     

"Dokter yang ingin meresepkan obat herbal harus mengikuti pelatihan selama 120 jam. Untuk tahap awal 50 jam. Dokter yang lulus pelatihan ini boleh menggunakan jamu sebagai obat," kata Ketua IDI Prijo Sidipratomo ketika ditemui di Konferensi Obat Tradisional ke-3 ASEAN di Solo, Senin (31/10/2011).

Para dokter juga disebut Prijo harus terdaftar di Dewan Kedokteran untuk memastikan mereka terlindungi secara hukum dan juga memastikan bahwa masyarakat juga terlindungi.  "Kalau dokter ingin gunakan obat tradisional, dokter harus diadvokasi terlebih dahulu. Kita sudah menyusun materi training dengan Balitbang," ujarnya.     

Untuk saat ini, penggunaan obat tradisional menurut Prijo masih dalam tahap pengobatan komplementer (pelengkap), belum sebagai pengobatan utama. "Selain membuat orang menjadi sehat, kita (dokter) juga menjaga seseorang sehat tetap sehat. Itu yang dapat didorong dengan jamu," katanya.     

Penelitian lebih lanjut menurutnya dapat digunakan untuk mendorong obat tradisional menggantikan obat modern, setelah keampuhan dan kualitasnya dapat dipastikan melalui standardisasi.     

Kehadiran obat tradisional seperti jamu, diakui Prijo, tidak dapat diabaikan karena telah ada sejak ratusan tahun yang lalu di masyarakat. "Mayoritas masyarakat juga telah menggunakan jamu. Sekitar 95 persen di antaranya menggunakan jamu sebagai pencegahan," katanya.     

Sementara itu, Konferensi Pengobatan Tradisional ASEAN ke-3 yang berlangsung di Solo, Jawa Tengah, sejak 31 Oktober-2 November itu membahas mengenai integrasi pengobatan tradisional ke dalam sistem pengobatan dengan memperhatikan keampuhan, ketersediaan, dan kualitas dari obat tradisional.

Sumber: kompas.com



Sejak bayi lagi saya susah untuk membuang air besar, kadang kala hingga berdarah. Untuk terus selesa dan nyaman, setiap hari saya akan makan pil untuk melancarkan buang air besar. Saya jadi tidak nyaman dan jarang untuk keluar berpergian ke mana-mana, takut hendak buat air besar datang dengan tiba-tiba. Sekiranya saya tidak makan pil itu, saya pasti susah hendak buang air besar hingga berdarah.

Pada suatu hari saya ke rumah ibu saudara saya. Kebetulan pada waktu itu ibu saudara saya sedang berbincang untuk memesan Herbal An-Nabaat untuk dirinya dan adiknya. Kebetulan beliau pun tahu tentang masalah saya, jadi beliau memesan sebotol “Herbal Rawat Buasir” untuk saya. Saya makan herbal ini dan hanya untuk beberapa hari saja saya sudah dapat buang air besar dengan mudah tanpa mengambil pil untuk melancarkan. Alhamdulillah, kini selepas menngunakan dua botol herbla ini, saya sudah tidak perlu makan herbal ini lagi karena saya buang air besar sudah kembali normal, tidak mencret dan tidak berdarah.’

Halimah (22 tahun)
Kelantan


Pada awalnya terdapat bengkak dan nyeri di sendi jari tangan. Pada akhir tahun 2007, pergelangan kaki pula menjadi bengkak hingga susah hendak berjalan dan mengemudi. Saya ke klinik swasta untuk mendapat rawatan. Dokter memberi saya obat tahan sakit, sodium… (lupa namanya). Selepas membuat ujian darah, dan seperti yang Dokter curigai, saya menghidap Rhaeumatic Arthritis. Dokter memberitahu saya bahwa "RA" ini tidak dapat disembuhkan, hanya boleh dikawal. Dokter menganjurkan saya dirawat di Rumah Sakit.

Di Rumah Sakit, diagnosisnya sama. Ditambah lagi dengan nasehat Dokter bahawa obat yang diberi ini hanya boleh menahan sakit saja dan tidak menyembuhkan, kelak obat ini juga akan mengakibatkan gangguan pada Ginjal. Mendengar kata-kata dokter ini saya mengambil keputusan untuk tidak makan ubat dari Rumah Sakit lagi. Saya makan herbal yang diiklan dalam Surat kabar serta yang diberi oleh kawan.

Sepanjang tahun 2008-2010 saya makan apa saja ubat alternatif dan pil tahan sakit, disebabkan sakit dan bengkak tidak hilang, bawah lutut saya pun menjadi semakin bengkak. Saya juga pergi berurut karena kononnya bengkak urat. Saya sudah habis ikhtiar dan usaha, hanya menunggu ramalan dokter bahawa "RA" akan menyebabkan saya cacat dan sendi-sendi saya membengkak.

Pada bulan Jun 2010, kakak saya membelikan saya Herbal An-Naabat. Kebetulan kakak saya seorang penderita penyakit kanker. Temannya yang juga menderita kanker memberitahu bahwa nampak ada perubahan selepas menggunakan Herbal An-Nabaat. Pada mula saya tidak mahu karena sudah bosan, tapi kakak tetap memujuk, katanya Allah SWT dah janji, setiap penyakit pasti ada penawarnya kecuali mati.

Akhirnya saya makan Herbal Rawat Arthritis. Mula-mula makan, sakit semakin menjadi-jadi. Saya mahu makan ubat penahan sakit, tetapi kakak saya tidak mengizinkannya karena katanya Dr. Nurmawati, melarangnya. Dia suruh saya habiskan 3 botol Herba An-Nabaat. Saya yakin dengan kakak, karena saya lihat dia sangat cekal dan tabah melawan penyakit kankernya itu. kakak mengambil Herba An-Nabaat itu karena katanya dia yakin akan menemui penawar dengan izin Allah SWT.

Belum saya habiskan satu botol, bengkak semakin terasa lembut kemudian mengecil. Bengkak di jari juga makin surut. Ada banyak perubahan, sakit pun kian menghilang, walaupun bukan seratus persen hilang. Saya terus habiskan 3 botol karena pada fikiran saya inilah penawar terakhir buat saya.

Sesudah habis 3 botol, bengkak dan sakit hilang sama sekali. Kini saya makan Obat herbal ini berselang sehari, kadang-kadaang dua hari, karena saya fikir, kemungkinan penyakit ni masih ada di dalam dan perlu dihapuskan. InsyaAllah. Kini semua sanak saudara, teman-teman, serta dan mereka yang pernah melihat saya berjalan tempang terhinjut-hinjut terkejut melihat perubahan saya. Saya boleh berjalan seperti orang biasa. Semoga Allah SWT kekal memelihara saya daripada penyakit arthritis ini. Amin. Alhamdulillah, Pengambilan Herba An-Nabaat "Rawatan Arthritis ini, telah diizinkan Allah SWT sebagai penawar untuk menyembuh saya daripada penyakit yang mengganggu hidup selama hampir tiga tahun.’ Subhanallah.

* Puan Wawa ( 45 tahun) mengalami bengkak sendi sejak tahun 2007.

Hubungi Kami

"Apakah anda punya masalah kesehatan? seperti kanker, kista, asam urat, diabetes, darah tinggi atau masalah kesehatan yang lain? Sementara anda juga sudah puas berobat ke Dokter/Rumah Sakit?"

"Di sini kami ingin membantu anda. Alhamdulillah dengan izin Allah SWT, ramai yang telah berhasil sembuh.. Bagaimana pula dengan anda?

Untuk pertanyaan atau konsultasi kesihatan,
hubungi pakar kami:

Dr. Nurmawati bt. Syakroni Apt. Ph.D
Pharmacist (UGM, Yogyakarta)
Microbiologist (UKM)
Moleculer Biologist (UPM)
+6019-3917945 (call/sms/whatsapp)

Atau hubungi wakil kami di Riau, Indonesia:

AS'AD TAMBUSAI
0813-72175729 (call/sms/whatsapp)
E-mail: annabaatriau@gmail.com

Atau buat temujanji
dan datang ke alamat kami:

RUMAH SEHAT AN-NABAAT
(DR. NURMAWATI SYAKRONI Apt. Ph.D)

Jln. Garuda Sakti Km. 7.5
Masuk Jln. Kijang Putih. Gg. Herbal
Desa Karya Indah. Kec Tapung
Kab. Kampar. 28464 Riau
Indonesia

Lihat google map:
https://goo.gl/maps/Rbzs39TPzau

WAKTU OPERASI:
Setiap Hari: Senin - Ahad
8.00 - 18.00 (WIB)

Video Herbal An-Nabaat